Blog ini berisi pendapat saya pribadi tentang isu-isu menarik khususnya soal ekonomi dan politik.
Jumat, 06 Desember 2013
Langkah Strategis Kendalikan Nilai Tukar Rupiah
Rupiah kembali mendapat tekanan. Akhir pekan lalu, rupiah bahkan sudah tembus ke angka psikhologis Rp12.000 per dolar Amerika. Menurunnya niai rupiah pada level di atas Rp12.000 diyakini para petinggi moneter Indonesia dan para pelaku pasar sangat riskan. Umumnya para pengamat menyatakan bahwa seharusnya rupiah tidak melewati Rp11.500, sebuah titik yang sesuai dengan kondisi riil ekonomi Indonesia.
Jika nilai tukar melonjak hingga di atas angka itu, maka ada faktor lain yang menyebabkannya. Faktor tersebut tentu saja adalah terkait keyakinan pemegang rupiah. Ada beberapa orang yang gelisah melihat rupiah melemah. Pertama, perusahaan yang mempunyai kewajiban untuk melunasi utang atau melakukan transfer keuntungan atau pembayaran lain ke luar negeri.
Melonjaknya permintaan dolar di akhir tahun sebenarnya sangat wajar. Menurut penuturan Menteri Keuangan Chatib Basri, kebutuhan dolar per November oleh perusahaan di Indonesia itu mencapai US$6,3 miliar. Masalahnya, apakah rupiah harus merosot begitu jauh untuk sebuah agenda permintaan dolar yang sudah terpola setiap tahunnya.
Kekhawatiran pengusaha yang berlebihan mendorong mereka mencari dolar sekarang meski kewajiban membayar masih jauh. Ini wajar terjadi karena mereka tidak ingin menanggung beban lebih besar jika rupiah merosot d kemudian hari.
Pihak lain yang khawatir dengan penurunan rupiah tentu adalah para pengimpor. Manufaktur Indonesia banyak mendatangkan bahan baku dari luar negeri. Dan importir ini akan mencari dolar lebih cepat jika mereka khawatir rupiah melemah. Selain itu, pengimpor cenderung akan menahan uang hasil ekspor tetap dalam mata uang dolar dengan menyimpannya di luar negeri.
Fakror lain, dalam sebuah situasi yang fluktuatif, para spekulan mulai bekerja mengambil keuntungan. Jika tidak dikendalikan segera, mata uang rupiah akan menjadi permainan mereka untuk mendapatkan keuntungan di balik kesusahan orang lain.
Sayangnya, kekhawatiran mereka itu tidak sepenuhnya bisa dikendalikan faktor internal sehingga tidak sepenuhnya bisa dikendalikan instrumen dalam negeri. Bahkan faktor eksternal sangat mendominasi. Rencana Amerika untuk mengurangi stimulus menjadi isu utama saat ini. Hanya soal waktu saja yang harus dipikirkan oleh Bank Sentral Amerika agar keputusan pengurangan stimulus tidak menjadi malapetaka dunia yang berimbas ke Amerika juga.
Ketika Amerika berusaha mengurangi stimulus itu beberapa waktu lalu, gejolak pasa di negara berkembang justru mengancam perekonomian dunia secara keseluruhan. Mata uang di berbagai negara termasuk rupiah saat itu menurun drastis. Bagaimana pun Amerika tidak ingin dolar terlalu kuat. Produk Amerika akan terasa lebih mahal di pasar-pasar negara berkembang dan itu bisa mengancam ekspor negara itu. Bahkan Amerika pernah marah terhadap China yang dulu sempat mempertahankan nilai mata uang yuandalam kondisi rendah. Ini dilakukan China demi menjaga ekspor produk Tirai Bambu itu ke Amerika.
Struktur ekonomi China dan Indonesia kebetulan berbeda. China yang mengandalkan ekspor untuk pertumbuhannya, jelas lebih suka nilai mata uang yuan tidak terlalu kuat. Tetapi Indonesia adalah negara yang sangat mengandalkan sektor konsumsi sebagai penggerak utama pertumbuhan.Banyak produk konsumsi yang kita impor.
Sayangnya, pabrik-pabrik kita juga banyak sekali mengandalkan bahan baku impor. Niai rupiah yang melemah akan menurunkan kemampuan mereka membeli bahan baku. Di satu sisi nilai ekspor dalam mata uang rupiah memang akan meningkat. Tapi jika komposisi biaya didominasi dolar, maka perusahaan itu tetap akan mendapatkan kesulitan besar.
Pada ekonomi yang banyak tergantung impor, Indonesia akan menghadapi kesulitan jika dolar terlalu kuat. Salah satu faktor yang sangat memukul ekonomi kita adalah impor bahan bakar minyak yang terus meningkat. Dalam mata uang dolar yang melonjak sekarang, uang yang harus dibayar untuk impor BBM semakin besar pula.
Data BPS menunjukan impor minyak pada Oktober 2013 sebesar 2,24 juta ton atau senilai US$ 2,14 miliar. Ini didominasi oleh impor BBM premium yang sebesar 1,04 juta ton atau US$ 1,06 miliar. Pada akhir tahun umumnya kebutuhan BBM juga meningkat karena banyak hari libur.
Kombinasi antara masalah eksternal dan internal ini menjadikan persoalan pelemahan rupiah perlu disikapi dengan cermat. Dari sisi psikhologis, pasar membutuhkan keyakinan bahwa ekonomi Indonesia memang kuat seperti yang dikatakan pemerintah.
Langkah cepat pemerintah di bawah komando Presiden Susilo Bambang Yudhoyono perlu diapresiasi. Langkah pemerintah itu antara lain akan menyiapkan dana stabilisasi yang disiapkan dengan melibatkan BUMN. Jika ada pelemahan tidak wajar dari rupiah maka dana ini bisa dikeluarkan.
Pemerintah juga sudah menyiapkan protokol penanganan krisis. Bank Indonesia pun akan terus menjaga pasar rupiah. Langkah-langkah stratgis ini setidaknya mulai menenangkan pasar, sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar secara perlahan mulai meningkat belakangan ini.
Tapi kewaspadaan tetap perlu. Dalam situasi di mana faktor eksternal sangat dominan terkait rencana pengurangan stimulus Amerika, maka Indonesia tidak bisa mengatasi masalah ini sendiri. Komunikasi terus menerus dengan pemerintah negara sahabat sangat diperlukan.
Negara yang akan terkena imbas atas “tappering off” ini bukan saja Indonesia tapi banyak negara. Indonesia tidak akan bisa mencegah rencana Amerika itu, tapi kita bisa mengkomunikasikan risiko yang timbul jika rencana itu dilaksanakan dalam skala dan waktu yang tidak tepat. (dimuat di Jurnal Nasional Kamis 5 Desember 2013)
Label:
Bank Indonesia,
dolar,
menteri keuangan,
pelemahan rupiah
Kamis, 19 September 2013
Syarat Agar Program Mobil Murah Berhasil
![]() |
| Macet.... |
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia
(Gaikindo) Sudirman Maman Rusdi menyatakan penjualan mobil tahun 2013 mencapai 1
juta unit. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil selama periode Januari
hingga September tahun ini mencapai 816.322 unit. Angka tersebut mendekati
total penjualan tahun lalu sebesar 894.164 unit. Dengan demikian, target
penjualan 1 juta unit tahun ini diyakini akan tercapai.
Selama periode sembilan bulan tahun ini, penjualan tertinggi diraih oleh Toyota sebanyak 298.646 unit, disusul Daihatsu 120.664 unit, Mitsubishi 109.461 unit, dan Suzuki 87.882 unit.
Target Kementerian Perindustrian sekitar 950.000 unit
seperti disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Unggulan Berbasis
Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Budi Darmadi. Baru
tahun depan diperkiarakan 1,1 juta mobil bisa terjual di Indonesia .
Melonjaknya penjualan mobil terkait dengan semakin banyaknya
penduduk kelas menengah.
McKinsey Global
Institute memperkirakan kelas konsumen Indonesia 45 juta orang pada 2010 dan
akan tumbuh menjadi 135 juta orang di tahun 2030.
McKinsey Global Institute mengkategorikan kelas konsumen
sebagai penduduk dengan pendapatan per kapita lebih besar atau sama dengan
US$3.600 per tahun atau sekitar Rp30 juta.
Kemudahan dalam kredit juga membuat semakin banyak penduduk
bisa membeli kendaraan. Para pembeli yang
relative taat melunasi utang itu telah menumbuhkan indsutri leasing di
Indonesia.
Pada survey yang dilansir situs online Google dan Netpop Agustus
lalu menyebutkan ada lima alasan masyarakat Indonesia
membeli mobil baru. Alasan terbesar, 48 persen, adalah mengakomodasi jumlah
keluarga yang bertambah besar. Alasan
lain yang cukup signifikan yakni menggantikan mobil tua (44 persen),
mendapatkan mobil yang lebih irit (43 persen), mendapatkan fitur terbaru (41
persen) dan memperoleh jenis mobil lain, misalnya dari sedan ke minibus (35
persen).
Dalam kehidupan sehari-hari, jumlah keluarga yang semakin
banyak menuntut alat transportasi yang efisien. Pada kondisi transportasi umum
yang belum memadai saat ini, kendaraan pribadi terasa lebih nyaman dan hemat.
Bukan hanya kendaraan roda empat, pembelian kendaraan roda dua juga meningkat
pesat.
Kita tengok lagi pertumbuhan jumlah kendaraan di Indoesia.
Berdasar data BPS, tahun 2000, jumlah kendaraan roda empat hanya 3.038.913 unit, tapi tahun 2011 sudah mencapai 9.548.866 mobil. Itu artinya naik tiga kali lipat dalam waktu
11 tahun.
Bagaimana dengan sepeda motor? Pada 2000, jumlahnya baru
13.563.017 unit, tapi tahun 2011 sudah mencapai
68.839.341 motor atau naik lima kali lipat.
Jika ditambah jumlah truk dan bus yang juga naik berlipat,
maka ruas jalan yang ada semakin tarasa sempit.
Pada 2000 panjang jalan hanya 348.083 kilometer, pada 2011 baru 496.607
kilometer, hanya tambah panjang 1,4 kali.
Berdasar data 2011, Indonesia masih ketinggalan
dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain. Di Indonesia, panjang jalan hanya
160 km/1 juta penduduk, di Thailand atau Korea mencapai 800 km/1 juta penduduk.
Bahkan Jepang 6.000 km/1 juta penduduk.
Dengan kondisi pertumbuhan jalan lebih lambat dibandingkan
kenaikan jumlah kendaraan, maka pantas
program mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) menjadi
kontroversi.
Sebagian orang menentang kehadilan mobil murah ini. Di satu sisi, harga mobil murah di bawah
Rp100 juta akan membuat permintaan kendaraan melonjak. Di sisi lain,
pertumbuhan jalan tidak sebanding.
Tetapi sebagian orang lainnya memandang kehadiran kendaraan
hemat energi ini akan memberi keuntungan tersendiri bagi lingkungan dan
mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Sebagai catatan, ada produsen
kendaraan yang mengklaim konsumsi BBM irit, hingga 20 km/liter.
Seperti disampaikan Menko Perekonomian Hatta Rajasa, ada
tiga hal yang ingin dicapai oleh pemerintah dari mobil murah ini. Pertama,
konsumsi BBM bisa dihemat, jika masyarakat cenderung menggunakan kendaraan
hemat energi.
Kedua, pemerintah ingin mengurangi 26 persen efek gas rumah kaca pada 2020 dengan memperkenalkan kendaraan “hijau” tersebut. Ketiga, mobil kecil ini akan menjadi bibit kendaraan nasional.
Kedua, pemerintah ingin mengurangi 26 persen efek gas rumah kaca pada 2020 dengan memperkenalkan kendaraan “hijau” tersebut. Ketiga, mobil kecil ini akan menjadi bibit kendaraan nasional.
Apakah tujuan itu akan tercapai? Sesungguhnya ada beberapa
syarat agar program mobil hijau ini bisa sukses. Pertama, pembangunan
infrastruktur jalan harus terus dilakukan. Pada akhirnya, kemacetan akan
menambah konsumsi BBM. Dinas Perhubungan DKI pada 2010 menghitung potensi
kerugian Rp45 triliun akibat kehilangan waktu sebagai buntut kemacetan.
Sedangkan pemborosan BBM mencapai Rp28 triliun lebih per tahun.
Kedua, kebijakan pemerintah terkait penggunaan bahan bakar terbarukan harus dikembangkan. Secara bertahap penggunaan bahan bakar gas dan biofuel harus digalakkan lagi. Infrastruktur seperti stasiun bahan bakar gas yang sudah masuk program harus dilaksanakan sesuai jadwal.
Ketiga, program pembuatan mobil nasional sudah dimulai sejak
lama, tetapi menemui banyak hambatan. Diperlukan pemberian insentif untuk
penelitian dan pengembangan terkait program mobil nasional. Tanpa kemudahan,
program mobil nasional akan kalah bersaing dengan perusahaan otomotif yang
sudah mapan.
Keempat, perusahaan pemasok industri otomotif seperti bahan baku besi baja, aluminium, karet dan plastik perlu terus
dikembangkan di Indonesia .
Mereka juga perlu mendapat perhatian pemerintah khususnya dalam membangun
industri otomotif nasional yang sebanyak mungkin menggunakan komponen lokal.
Rabu, 11 September 2013
Sepenting Apa Kedelai Buat Indonesia?
![]() |
| Kedelai, tempe dan tahu |
Ribut-ribut soal kedelai,
banyak orang yang berteriak. Ibu rumah tangga berteriak karena harga tahu dan
tempe naik hingga 25 persen. Semula tempe dan tahu adalah makanan berprotein
yang murah, eh.. lama-lama ngelunjak (alias naik).
Mau beralih ke protein
hewani seperti daging sapi, harganya malah lebih parah hingga pernah mencapai
di atas Rp150 ribu per kilo. Daging
ayam, telor, dan ikan pun tak murah. Tempe dan tahu adalah andalan protein keluarga
Indonesia. Dalam 100 gram tempe mengandung 201 kilo kalori energi, 20,8 gram
protein, 8,8 gram lemak, 13,5 gram karbohidrat dan 1,4 gram serat.
Bukti bahwa orang Indonesia
doyan tempe dan tahu terlihat dari
konsumsi kedelai yang naik terus. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tahun
2012, total kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,2 juta ton. Sebanyak 83,7 persen diantaranya untuk pangan, terutama
tahu-tempe. Kebutuhan industri Kecap, Tauco, dan lainnya hanya 14,7 persen dan
benih 1,2 persen.
BPS memperkirakan produksi
kedelai dalam negeri akan mencapai
847,16 ribu ton biji kering untuk tahun 2013. Angka ini naik 0,47 persen dibandingkan data
produksi kedelai 2012 sebesar 843,15 ribu ton.
Namun, jumlah produksi kedelai ini masih jauh lebih rendah dari
kebutuhan kedelai yang mencapai lebih 2,2 juta ton. Lagi-lagi, Indonesia harus
impor. Dari data itu terlihat sungguh
ironis, makanan kesukaan orang Indonesia itu justru dipasok dari luar negeri.
Tingginya konsumsi membuat industri
tahu tempe menjadi andalan banyak tenaga kerja.
Ketua Umum Gabungan Koperasi
Tahu/Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mencatat di seluruh Indonesia
ada 114.575 perajin dengan tenaga kerja 1,5 juta orang. Akibat kenaikan harga
tempe, banyak perajin yang menghentikan usahanya. Sebanyak 10 persen yang sudah menghentikan produksinya. Sekitar 300.000
pekerja dirumahkan.
Amerika sangat senang dengan
kegemaran orang Indonesia makan tahu tempe. Maklum Amerika produsen kedelai
terbesar di dunia. Amerika Serikat merupakan negara pengekspor terbesar ke
Indonesia.
Pada 2012, kebutuhan kedelai
nasional 2,2 juta ton. Impor kedelai terbesar dari Amerika Serikat dengan
jumlah 1.847.900 ton pada 2011. Impor dari Malaysia 120.074 ton, Argentina
73.037 ton, Uruguay 16.825 ton, dan Brasil 13.550 ton.
Tahun lalu terjadi anomali
cuaca di Amerika Serikat dan Amerika Selatan yang menyebabkan pasokan kedelai turun
dan harganya melonjak. Harga kedelai internasional pada minggu ke-3 Juli 2012
mencapai US$622 per ton atau Rp8.345 per kilogram untuk harga impor di dalam
negeri.
Harga ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga tertinggi pada 2011, yaitu bulan Februari sekitar US$513 per ton atau harga paritas impor di dalam negeri sekitar Rp 6.536 per kg.
Harga ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga tertinggi pada 2011, yaitu bulan Februari sekitar US$513 per ton atau harga paritas impor di dalam negeri sekitar Rp 6.536 per kg.
Meski kedelai naik, pedagang
tak ingin kehilangan konsumen. Bagi pengusaha jauh lebih baik mendapat
keuntungan kecil dibandingkan kehilangan pelanggan. Untuk mencegah kerugian,
pedagang mengecilkan bentuk tempe atau tahu. Sehingga konsumen masih bisa beli
tahu atau tempe meski ukurannya mengkeret alias mengecil.
Ketergantungan kepada impor
menimbulkan risiko harga di dalam negeri berfluktuasi. Pertama, soal kenaikan
harga kedelai di Amerika. Kedua, turunnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika.
Masalah pasokan kedelai tidak ada masalah, tetapi harga memang naik dari produsen.
Menentukan harga kedelai
yang pas juga dilematis. Harga yang terlalu rendah akan menyebabkan para petani
di Indonesia tidak berminat menanam kedelai. Akibatnya pasokan dari dalam
negeri terancam menyusut. Impor akan membesar karena dirasa lebih menguntungkan
karena harga yang relative murah.
Di sisi lain, jika harga
kedelai naik, konsumen tahu tempe yang keberatan. Petani kedelai tentu
diuntungkan karena pendapatan mereka lebih besar. Menjaga keseimbangan antara
kepentingan konsumen dan petani perlu dicarikan rumusan yang tepat.
Pada prinsipnya, dari sisi
ketahanan pangan, jauh lebih baik jika mayoritas kedelai dipasok dari dalam
negeri. Langkah menuju swasembada kedelai harus diteruskan. Rakyat Indonesia
suatu saat akan bisa menerima harga kedelai mahal asalkan itu hasil jerih payah
petani sendiri. Petani kedelai makmur, konsumen pun senang.
Para pedagang perlu memahami
tentang hubungan antara harga kedelai dengan kegairahan petani menanam kedelai.
Pedagang tidak bisa terus menerus menekan harga kedelai dengan mengabaikan
hukum ekonomi. Harus ada penyesuaian antara kepentingan konsumen, pedagang dan
petani. Berbagai kementerian musti merumuskan masalah ini dalam perspektif
jangka panjang menuju swasembada kedelai yang menguntungkan petani dan konsumen
sekaligus.
Minggu, 01 September 2013
Masyarakat Indonesia Makin Boros
![]() |
| Masyarakat kita cenderung boros ya... |
Pada jaman dulu, ketika
seseorang bertemu kerabatnya, pertanyaan yang paling lazim adalah “sudah makan
belum?”. Maklum, ketika itu masyarakat Indonesia masih berkutat dengan
kebutuhan pangan.
Kini, ketika bertemu dengan
saudara atau rekan kerja, yang ditanyakan adalah berapa anak, rumah dimana,
atau mungkin jumlah mobil dan kepemilikan saham. Faktanya, kemajuan ekonomi
membawa pola hidup yang lebih menuntut. Buntutnya, gaya hidup modern cenderung lebih boros.
Kalangan menengah Indonesia
makin banyak, mereka memiliki gaya hidup yang tak mau serba pas-pasan.
Indonesia saat ini tercatat menduduki peringkat 16 dunia dari sisi total PDB.
Beberapa lembaga riset internasional, misalnya McKinsey Global Institute
meramalkan, Indonesia akan menduduki peringkat ke-6 atau ke-7 dunia pada 2030.
Jumlah kalangan menengah akan mencapai di atas 135 juta dibandingkan saat ini sekitar 50 juta orang.
Kaum yang berduit mengubah
acara makan dari sekadar mengisi perut menjadi petualangan selera. Mereka berganti-ganti
restoran untuk menjajal makanan dan menu. Kadang mereka mengabaikan porsi
makanan, wajar jika masalah kegemukan pun menjadi masalah baru di Indonesia.
Prevalensi gemuk pada anak Indonesia
meningkat dari 12,2 persen (2007) menjadi 14 persen (2010). Padahal, anak yang gemuk memiliki risiko untuk
tetap gemuk hingga dewasa, yang pada
akhirnya akan meningkatkan risiko terkena penyakit kronis seperti diabetes dan
jantung.
Tak hanya di Indonesia,
masyarakat dunia yang lebih maju sudah boros duluan. Berdasarkan data FAO (Food
and Agriculture Organization), setiap tahun 1,3 miliar ton makanan di dunia
terbuang atau hilang. Di sisi lain, satu
dari tujuh orang di dunia tidur dalam
keadaan lapar. Lebih dari 20.000 anak-anak di bawah 5 tahun meninggal dalam perut
kosong.
Salah satu perilaku boros
lainnya adalah kebiasaan naik kendaraan pribadi. Mengantar anak, belanja ke
pasar, pergi ke rumah tetangga, yang jaraknya mungkin hanya beberapa meter,
mereka naik motor. Pantas jika penggunaan bahan bakar minyak terus (BBM) melonjak.
Asal tahu saja, impor BBM Indonesia per harinya sekitar 700.000-800.000
barel per hari. Ini akibat kebutuhan BBM orang Indonesia mencapai 1,4 juta
kiloliter (KL) per hari. Konsumsi BBM
yang tinggi menyebabkan subsidi pun membengkak. Pada 2012, realisasi subsidi
BBM Rp211,9 triliun, membengkak jauh di atas anggaran awal Rp137,4 triliun.
Banyaknya belanja jelas akan
menciptakan pertumbuhan. Indonesia dengan jumlah penduduk 240 juta, jika
semuanya suka belanja, tentu akan menggerakan ekonomi.
Tapi konsumsi boros akan menimbulkan masalah serius di kemudian hari.
Dampak makanan sisa ini
tidak hanya dari sisi finansial, namun juga memberikan dampak secara
lingkungan. Makanan yang terbuang ini berarti juga membuat bahan-bahan kimia
dari proses pemupukan dan pestisida, emsisi gas buang transportasi makanan itu
juga terbuang.
Makanan-makanan yang
terbuang ini justru akan menambah gas methana yang seharusnya tidak perlu ada.
Zat ini menurut catatan PBB memiliki daya rusak 23 kali dari CO2 dalam hal
mengakibatkan efek rumah kaca.
Belum lagi dampak dari pemborosan BBM yang tidak terkendali. Selain lingkungan hidup yang kotor, kecenderungan impor BBM yang terus membesar bisa menimbulkan keseimbangan ekonomi secara keseluruhan semakin terganggu.
Konsumsi yang besar apalagi
dipenuhi dengan impor, akan menjadikan Indonesia tidak aman, termasuk pangan.
Kcenderungan makan berbahan dasar pangan impor makin besar.
Volume impor gandum
Indonesia pada 2011 mencapai 5,4 juta metric ton atau senilai US$2,1 miliar.
Pada 2012, volume impor gandum Indonesia naik menjadi 6,2 juta metric ton atau
senilai US$2,2 miliar.
Pada periode Januari-April
2013, volume impor gandum Indonesia mencapai 2 juta metric ton, naik
dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu 1,9 juta metric ton. Nilai
impor gandum Indonesia pada Januari-April 2013 mencapai US$771,4 juta.
Indonesia mengimpor gandum paling banyak dari Australia (70,7 persen), disusul Kanada (14,9 persen), dan Amerika Serikat (11 persen). Indonesia juga mengimpor gandum dari India, Rusia, Pakistan, dan Turki.
Indonesia mengimpor gandum paling banyak dari Australia (70,7 persen), disusul Kanada (14,9 persen), dan Amerika Serikat (11 persen). Indonesia juga mengimpor gandum dari India, Rusia, Pakistan, dan Turki.
Belum lagi impor kedelai
yang juga menjadi bahan makanan penting bagi orang Indonesia.
Diperlukan perubahan gaya
hidup yang berbasis pada kekayaan lokal, misalnya dengan mengembangkan makanan
hasil bumi Indonesia. Makanan olahan yang harus dikembangkan semestinya adalah
produk berbasi pertanian Indonesia seperti umbi-umbian yang banyak ditemui di
lading kita. Kreatifitas pengolahan beras juga bisa mengurangi kecenderungan
untuk makan mie atau roti.
Kearifan lokal Indonesia
sebenarnya sudah membekali kita dengan berbagai teknik masak yang dapat
memperpanjang daya tahan makanan. Rendang, misalnya, dapat bertahan
berhari-hari, bahkan ada yang sampai dalam hitungan bulan. Teknik pengeringan
ikan dengan cara diasap atau diasinkan lalu dijemur juga menjadi cara yang
efektif.
Kamis, 25 Juli 2013
Rumitnya Tangani Pengemis Musiman
![]() |
| Pengemis menjalar di musim Ramadan |
Kata shadaqah disebutkan dalam Al-Qur'an 15 kali dan semuanya turun pasca-hijrah, yakni di Madinah. Kata shadaqah berarti "benar". Dari sudut syari'at, sedekah berarti "segala pemberian amal di jalan Allah". Pengertian sedekah lebih luas daripada infak. Infak berkaitan dengan materi, sedang sedekah juga menyangkut hal yang non-materi.
Dari segi makna syar'i, hampir tidak ada perbedaan makna antara sedekah dan zakat. Al-Qur'an sering menggunakan kata sedekah dalam pengertian zakat. Contohnya, Allah SWT berfirman dalam QS At-Tawbah (9): 103 berbunyi "Ambillah sedekah (zakat) dari sebahagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya, doa kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Rasulullah SAW dalam hadits pun menyebut sedekah dengan
makna zakat, seperti dalam hadits yang mengisahkan pengiriman Mu'adz bin Jabal
RA ke Yaman. "Beri tahu mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka untuk
mengeluarkan sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka...."
Meski angka kemiskinan
Tidak terbayangkan orang miskin harus membeli daging seharga Rp100 ribu per kilogram. Tapi bulan Ramadan ini, mereka bisa mendatangi masjid setiap buka puasa. Banyak makanan disajikan, dan kadang daging masuk dalam menu, setidaknya sebutir telor. Makanan takjil ini merupakan sumbangan dari kalangan menengah sekitar 135 juta jiwa berdasarkan data Bank Indonesia (BI) pada 2012.
Sayangnya, di bulan Ramadan ini, banyak muncul pengemis gadungan. Mereka tidak melarat tapi berpura-pura miskin. Ini problematik sosial yang terkait mental. Kementerian Sosial memperkirakan 7.000 pengemis musiman beroperasi di
Masalahnya, bagi pemberi sedekah, sangat sulit membedakan pengemis pura-pura dengan peminta-minta asli. Mereka mengenakan pakaian sama-sama kumuh, rambut berantakan, kadang ada pula kaum disable.
Mereka yang ingin sedekah mengalami konflik batin. Apakah pengemis yang menyodorkan tangannya ke jendela mobil itu gadungan atau asli? Mudah saja Kemensos melarang orang memberi sedekah kepada pengemis. Tapi kenyataan di lapangan, konflik psikhologis tadi tak bisa diselesaikan dengan aturan seperti itu.
Himbauan Kemensos ini seperti ironi. Di satu sisi, kementerian ini melarang memberi sedekah, tetapi kemampuannya untuk menangani pengemis sangat minim. Pihak Kemensos hanya menangani penyandang masalah sosial permanen yang ditampung di panti-panti. Jumlahnya hanya 145 ribu orang terdiri gelandangan, orang cacat berat, lansia dan lain-lain. Lalu siapa yang mengurus orang miskin lain di luar panti?
Penanganan masalah pengemis musiman menjadi tugas banyak pihak. Sekadar penangkapan dan pengembalian ke tempat asal hanya solusi sementara. Strategi penyelesaian menyeluruh perlu dirumuskan secara baik.
Pemda DKI atau
Daerah-daerah pemasok juga harus aktif mencari solusi agar penduduknya tidak menjadi pengemis musiman. Pengkajian melibatkan para pakar bisa merumuskan pokok masalah dan membuat solusi menyeluruh. Tanpa penanganan serius, para pengemis gadungan ini akan selalu datang, pergi,dan datang lagi...
Label:
angka kemiskinan,
jakarta,
kemensos,
kementerian sosial,
kemiskinan,
pendapatn,
pengemis,
ramasan
Sabtu, 20 Juli 2013
Why SBY Active in Social Media
![]() |
| President meeting with miniters |
I follow the TV shows and news about the burning of the prison
in Medan, North Sumatra several days ago. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) was angry with the performance of the ministers responding the case. SBY said there was no official statement from the
ministers to the public for 10 hours.
Some ministers and
officials are out of date in communication skill. On the other hand, the
president active in social media like twitter, facebook and google +, upload a
video on youtube. SBY communicate with the public much faster than the ministers do. The
minister seems to rely on official reports from subordinates that need many
hours before the papers reach their
table.
President monitored the case via social media. There was even a prisoner sent a message
directly to the President. With the help of social media, public have access to communicate voices to officials
in very personal manner. Some people,
including SBY "improving" status twitter become a communication tool
more useful than just “say hello”.
In my opinion, social media provides benefits for the
President in communicating with the public. Firstly, the mass media, including
newspapers, magazines, television, radio, are slower than before in terms of broadcast information. This
happens because the rules of journalism such as accuracy, cover both side
should be maintained. Confirmation process takes time, and this makes the mass
media behind with social media in terms of speed.
Secondly, the mass media tend to enlarge and create a
conglomeration potentially cause problems in terms of independence. Some of the
media are owned by politicians. MNC Group is owned by Hary Tanoe (candidate for
vice president of the Hanura). He has about 49 electronic and print media in
this business group.
Aburizal Bakrie (Golkar presidential candidate) has a strong
media such as TVOne with VIVA news as the holding. Party Chairman Surya Paloh
Nasdem have Metro TV, Media Indonesia and other media. Dahlan Iskan, alternative
candidates for presiden is owner Jawa
Pos group that reaches many parts of Indonesia.
Presidents SBY often face a mass
media in reporting activities disproportionately. For example, in a visit to
a province or city, the President
welcomed thousands of people. But the media were more interested in writing
news of the arrival of dozens of people
who demonstrate against SBY. The news angle was not proportional.
The president
recognized the need channels that can carry information as a counterweight
alternative news media information.
Thirdly, SBY breakthrough networking through social media is very
strategic. To build the mass media with tens of thousands of subscriber need
billions of rupiah. With a click twitter, followers SBY has reached 2.5 million
people in a short time.
The position of social media may not be able to fully
replace the mass media. These two types of media can complement each other. But
for SBY, today is more often criticized than praised by the mass media, a
breakthrough through social media can be a counterweight.
For the community, ease of communication with the President
very profitable. However public access to the mass media is limited. The
tendency of journalists more often citing officials, businessmen and less
reported news "lower classes" making a lot of noises that are not
accommodated reporters. With social media, the general public has direct access
to the President.
Communication between President-community through social media is still tested by time.
In the end, officials-people communication is not just "say hello". The substance of
the people's voice must be heard and then get a solution. Rihad Wiranto--personal opinion.
Label:
google+,
information,
mass media,
president SBY,
public.,
social media,
twitter,
youtube
Rabu, 19 Juni 2013
Orang Kaya yang Manja
| Kalangan menengah tega memakan subsidi rakyat miskin |
Tiap kali menjelang kenaikan
harga bahan bakar minyak (BBM), tiba-tiba bermunculan jargon-jargon pembelaan
terhadap rakyat miskin. Para elit politik yang
mendukung pengurangan subsidi ataupun yang menolak mengcungkan diri sebagai pembela
orang bawah.
Faktanya, orang miskin
adalah bukan pengguna utama BBM. Tengoklah kembali hasil Sensus Nasional 2011.
Sebanyak 60 persen rumah tangga Indonesia
menggunakan premium atau solar yang disubsidi pemerintah. Dari 60 persen rumah tangga yang memiliki kendaraan, hanya
31,7 persen yang dimiliki rumah tangga golongan bawah.
Percaya
atau tidak, sekitar 93 persen pengguna BBM itu adalah kalangan atas, hanya 7
persen subsidi dinikmati keluarga miskin. Tengok
data Kementerian ESDM yang menunjukan kebanyakan bensin dan solar dinikmati
orang yang memiliki kendaraan. Pemilik mobil
53 persen, sedangkan motor 47 persen. Kalau pemilik mobil hampir pasti
orang menangah ke atas, sedangkan motor bisa saja dimiliki orang kaya atau
kelas bawah.
Data Kementerian Keuangan 2012
menyebutkan sebanyak 25 persen rumah
tangga berpenghasilan tertinggi menikmati 77 persen subsidi BBM. Sebaliknya 25
persen rumah tangga berpenghasilan terendah menikmati 15 persen subsidi BBM
Jika melihat angka seperti
itu, siapa yang akan tersengat jika harga premium dan solar naik? Jelas
kalangan menengah yang akan terkena dampaknya paling terasa. Mereka akan
membeli premium atau solar lebih mahal dari biasanya.
Dampak ikutannya, biaya
jemputan anak sekolah naik, baik yang
naik ojek atau angkutan antar jemput. Biaya sekolah, khususnya yang swasta juga
akan menaikan sumbangan renovasi sekolah, seragam, buku dan seterusnya.
Rasa keadilan jadi tercabik-cabik melihat kenyataan banyak mobil mewah tetap membeli premium. Pemilik mobil kinclong seharga di atas Rp500 juta tidak malu antre bersama mikrolet lusuh, bus metromini karatan di SPBU. Spanduk bertuliskan Premium Hanya Untuk Golongan Tidak Mampu yang tersebar di banyak SPBU tidak menyentuh hati mereka sama sekali.
Kalangan menengah merupakan golongan yang rasional. Mereka bisa menghitung betapa besarnya diskon premium yang mereka terima. Jika harus membeli Pertamax, dia harus merogoh sekitar Rp9.000 untuk satu liter. Bayangkan, premium hanya Rp4.500 per liter, sehingga dia bisa hemat Rp4.500 per liter atau diskon 50 persen.
Kalangan menengah yang juga jago shopping ini, biasa mengejar diskon di toko-toko untuk baju, handphone, tas, sepatu, dan seterusnya. Diskon 20 persen saja sudah cukup menggugah nafsu belanja mereka. Jadi mengharapkan kalangan menengah untuk berbaik hati membeli Pertamax adalah sangat sulit, tidak rasional.
Di satu sisi, kalangan menengah yang boros BBM itu semakin banyak jumlahnya. McKinsey Global Institute memperkirakan kelas menengah Indonesia bakal mencapai 135 juta pada 2030 dari angka saat ini sekitar 50 juta orang.
Lembaga ini menyebut kelas menengah sebagai consuming class, yakni individu yang berpendapatan minimum US$3.600 per tahun atau sekitar Rp34,2 juta setara Rp2,9 juta per bulan.
Boston Consulting Group (BCG) memproyeksikan, jumlah konsumen kelas menengah di
Pada 2020, Euromonitor International juga yakin kelas menengah di
Selain soal pendapatan yang bertambah, kalangan menengah juga memiliki
Tapi perlu diingat, kalangan menengah ini hidup bersama orang miskin. Meskipun angka kemiskinan di Indonesua terus menurun, jumlahnya masih banyak. Pada September 2012, jumlah penduduk miskin mencapai 28,59 juta orang (11,66 persen).
Jadi, relakanlah subsidi yang dinikmati orang kaya itu untuk kemudian dialihkan kepada si miskin. Penghematan subsidi itu akan dibangun sekolah, jalan, perbaikan angkutan umum dan sarana lain yang bisa dinikati bersama. Tak perlu manja lagi, toh?
Langganan:
Postingan (Atom)
_banknotes.jpg)




