Minggu, 01 September 2013

Masyarakat Indonesia Makin Boros



Masyarakat kita cenderung boros ya...

Pada jaman dulu, ketika seseorang bertemu kerabatnya, pertanyaan yang paling lazim adalah “sudah makan belum?”. Maklum, ketika itu masyarakat Indonesia masih berkutat dengan kebutuhan pangan.

Kini, ketika bertemu dengan saudara atau rekan kerja, yang ditanyakan adalah berapa anak, rumah dimana, atau mungkin jumlah mobil dan kepemilikan saham. Faktanya, kemajuan ekonomi membawa pola hidup yang lebih menuntut. Buntutnya,  gaya hidup modern  cenderung lebih boros.

Kalangan menengah Indonesia makin banyak, mereka memiliki gaya hidup yang tak mau serba pas-pasan. Indonesia saat ini tercatat menduduki peringkat 16 dunia dari sisi total PDB. Beberapa lembaga riset internasional, misalnya McKinsey Global Institute meramalkan, Indonesia akan menduduki peringkat ke-6 atau ke-7 dunia pada 2030. Jumlah kalangan menengah akan mencapai di atas 135 juta dibandingkan saat ini sekitar 50 juta orang.

Kaum yang berduit mengubah acara makan dari sekadar mengisi perut menjadi petualangan selera. Mereka berganti-ganti restoran untuk menjajal makanan dan menu. Kadang mereka mengabaikan porsi makanan, wajar jika masalah kegemukan pun menjadi masalah baru di Indonesia.

Prevalensi gemuk pada anak Indonesia meningkat dari 12,2 persen (2007) menjadi 14 persen (2010).  Padahal, anak yang gemuk memiliki risiko untuk tetap gemuk hingga  dewasa, yang pada akhirnya akan meningkatkan risiko terkena penyakit kronis seperti diabetes dan jantung. 

Tak hanya di Indonesia, masyarakat dunia yang lebih maju sudah boros duluan. Berdasarkan data FAO (Food and Agriculture Organization), setiap tahun 1,3 miliar ton makanan di dunia terbuang atau hilang.  Di sisi lain, satu dari tujuh  orang di dunia tidur dalam keadaan lapar. Lebih dari 20.000 anak-anak di bawah 5 tahun meninggal dalam perut kosong.  

Salah satu perilaku boros lainnya adalah kebiasaan naik kendaraan pribadi. Mengantar anak, belanja ke pasar, pergi ke rumah tetangga, yang jaraknya mungkin hanya beberapa meter, mereka naik motor. Pantas jika penggunaan bahan bakar minyak terus (BBM) melonjak.

Asal tahu saja,  impor BBM Indonesia per harinya sekitar 700.000-800.000 barel per hari. Ini akibat kebutuhan BBM orang Indonesia mencapai 1,4 juta kiloliter (KL) per  hari. Konsumsi BBM yang tinggi menyebabkan subsidi pun membengkak. Pada 2012, realisasi subsidi BBM Rp211,9 triliun, membengkak jauh di atas anggaran awal Rp137,4 triliun.

Banyaknya belanja jelas akan menciptakan pertumbuhan. Indonesia dengan jumlah penduduk 240 juta, jika semuanya suka belanja, tentu akan menggerakan ekonomi.
Tapi konsumsi boros  akan menimbulkan masalah serius  di kemudian hari.

Dampak makanan sisa ini tidak hanya dari sisi finansial, namun juga memberikan dampak secara lingkungan. Makanan yang terbuang ini berarti juga membuat bahan-bahan kimia dari proses pemupukan dan pestisida, emsisi gas buang transportasi makanan itu juga terbuang.

Makanan-makanan yang terbuang ini justru akan menambah gas methana yang seharusnya tidak perlu ada. Zat ini menurut catatan PBB memiliki daya rusak 23 kali dari CO2 dalam hal mengakibatkan efek rumah kaca.

Belum lagi dampak dari pemborosan BBM yang tidak terkendali. Selain lingkungan hidup yang kotor, kecenderungan impor BBM yang terus membesar bisa menimbulkan keseimbangan ekonomi secara keseluruhan semakin terganggu.

Konsumsi yang besar apalagi dipenuhi dengan impor, akan menjadikan Indonesia tidak aman, termasuk pangan. Kcenderungan makan berbahan dasar pangan impor makin besar.

Volume impor gandum Indonesia pada 2011 mencapai 5,4 juta metric ton atau senilai US$2,1 miliar. Pada 2012, volume impor gandum Indonesia naik menjadi 6,2 juta metric ton atau senilai US$2,2 miliar.

Pada periode Januari-April 2013, volume impor gandum Indonesia mencapai 2 juta metric ton, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu 1,9 juta metric ton. Nilai impor gandum Indonesia pada Januari-April 2013 mencapai US$771,4 juta.

Indonesia mengimpor gandum paling banyak dari Australia (70,7 persen), disusul Kanada (14,9 persen), dan Amerika Serikat (11 persen). Indonesia juga mengimpor gandum dari India, Rusia, Pakistan, dan Turki. 

Belum lagi impor kedelai yang juga menjadi bahan makanan penting bagi orang Indonesia.

Diperlukan perubahan gaya hidup yang berbasis pada kekayaan lokal, misalnya dengan mengembangkan makanan hasil bumi Indonesia. Makanan olahan yang harus dikembangkan semestinya adalah produk berbasi pertanian Indonesia seperti umbi-umbian yang banyak ditemui di lading kita. Kreatifitas pengolahan beras juga bisa mengurangi kecenderungan untuk makan mie atau roti.

Kearifan lokal Indonesia sebenarnya sudah membekali kita dengan berbagai teknik masak yang dapat memperpanjang daya tahan makanan. Rendang, misalnya, dapat bertahan berhari-hari, bahkan ada yang sampai dalam hitungan bulan. Teknik pengeringan ikan dengan cara diasap atau diasinkan lalu dijemur juga menjadi cara yang efektif. 


Kamis, 25 Juli 2013

Rumitnya Tangani Pengemis Musiman


Pengemis menjalar di musim Ramadan
Di bulan Ramadan ini, gairah kaum muslimin untuk bersedekah meningkat pesat. Umat muslim menyediakan takjil di masjid dan mushala, menyantuni anak yatim piatu, atau memberi sedekah kepada si miskin.
Kata shadaqah disebutkan dalam Al-Qur'an 15 kali dan semuanya turun pasca-hijrah, yakni di Madinah. Kata shadaqah berarti "benar". Dari sudut syari'at, sedekah berarti "segala pemberian amal di jalan Allah". Pengertian sedekah lebih luas daripada infak. Infak berkaitan dengan materi, sedang sedekah juga menyangkut hal yang non-materi.

Dari segi makna syar'i, hampir tidak ada perbedaan makna antara sedekah dan zakat. Al-Qur'an sering menggunakan kata sedekah dalam pengertian zakat. Contohnya, Allah SWT berfirman dalam QS At-Tawbah (9): 103 berbunyi "Ambillah sedekah (zakat) dari sebahagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya, doa kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Rasulullah SAW dalam hadits pun menyebut sedekah dengan makna zakat, seperti dalam hadits yang mengisahkan pengiriman Mu'adz bin Jabal RA ke Yaman. "Beri tahu mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka untuk mengeluarkan sedekah (zakat) dari sebagian harta mereka...."

Di bulan Ramadan, kepentingan orang kaya dengan kaum miskin bertemu. Orang kaya melihat bulan suci ini sebagai saat tepat untuk memberi sedekah. Di sisi lain, si miskin melihat Ramadan merupakan waktu paling hoki untuk mendapatkan banyak pendapatan. Di Ramadan inilah, di kaya dan si miskin bertemu, berbagi kebahagiaan.

Meski angka kemiskinan Indonesia terus menurun, jumlah mereka masih banyak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2013 masih 28,59 juta orang. Mereka menjadi golongan paling rentan di bulan Ramadan karena harga pangan cenderung naik.

Tidak terbayangkan orang miskin harus membeli daging seharga Rp100 ribu per kilogram. Tapi bulan Ramadan ini, mereka bisa mendatangi masjid setiap buka puasa. Banyak makanan disajikan, dan kadang daging masuk dalam menu, setidaknya sebutir telor. Makanan takjil ini merupakan sumbangan dari kalangan menengah sekitar 135 juta jiwa berdasarkan data Bank Indonesia (BI) pada 2012.

Sayangnya, di bulan Ramadan ini, banyak muncul pengemis gadungan. Mereka tidak melarat tapi berpura-pura miskin. Ini problematik sosial yang terkait mental. Kementerian Sosial memperkirakan 7.000 pengemis musiman beroperasi di Jakarta pada Ramadan ini. Kemensos mendefinisikan mereka sebagai pengemis musiman, bukan pengemis permanen. Pantauan Kemensos menyatakan pengemis bisa meraup Rp4 juta selama Ramadan. Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan menemukan fakta mengejutkan, ada pengemis bisa meraup Rp750 ribu hingga Rp1 juta sehari.


Masalahnya, bagi pemberi sedekah, sangat sulit membedakan pengemis pura-pura dengan peminta-minta asli. Mereka mengenakan pakaian sama-sama kumuh, rambut berantakan, kadang ada pula kaum disable.
Mereka yang ingin sedekah mengalami konflik batin. Apakah pengemis yang menyodorkan tangannya ke jendela mobil itu gadungan atau asli? Mudah saja Kemensos melarang orang memberi sedekah kepada pengemis. Tapi kenyataan di lapangan, konflik psikhologis tadi tak bisa diselesaikan dengan aturan seperti itu.

Himbauan Kemensos ini seperti ironi. Di satu sisi, kementerian ini melarang memberi sedekah, tetapi kemampuannya untuk menangani pengemis sangat minim. Pihak Kemensos hanya menangani penyandang masalah sosial permanen yang ditampung di panti-panti. Jumlahnya hanya 145 ribu orang terdiri gelandangan, orang cacat berat, lansia dan lain-lain. Lalu siapa yang mengurus orang miskin lain di luar panti?
Penanganan masalah pengemis musiman menjadi tugas banyak pihak. Sekadar penangkapan dan pengembalian ke tempat asal hanya solusi sementara. Strategi penyelesaian menyeluruh perlu dirumuskan secara baik.

Pemda DKI atau kota lain yang menjadi tujuan pengemis, harus mendata secara detail tentang profil pengemis, tempat mangkal, asal daerah dan sebagainya. Misalnya di Jakarta, ternyata berdiri beberapa 'Kampung Pengemis' yang menampung pendatang dari Indramayu, Cirebon, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Daerah-daerah pemasok juga harus aktif mencari solusi agar penduduknya tidak menjadi pengemis musiman. Pengkajian melibatkan para pakar bisa merumuskan pokok masalah dan membuat solusi menyeluruh. Tanpa penanganan serius, para pengemis gadungan ini akan selalu datang, pergi,dan datang lagi...


Sabtu, 20 Juli 2013

Why SBY Active in Social Media


President meeting with miniters
I follow the TV shows and news about the burning of the prison in Medan, North Sumatra several days ago. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) was angry with the performance of the ministers responding  the case. SBY said  there was no official statement from the ministers to the public  for 10 hours.

Some  ministers and officials are out of date in communication skill. On the other hand, the president active in social media like twitter, facebook and google +, upload a video on youtube. SBY communicate with the public much faster than the ministers do. The minister seems to rely on official reports from subordinates that need many hours before the papers reach their  table.

President monitored the case via  social media.  There was even a prisoner sent a message directly to the President. With the help of social media,  public have access to communicate voices to officials  in very personal manner. Some people, including SBY "improving" status twitter become a communication tool more useful than just “say hello”.

In my opinion, social media provides benefits for the President in communicating with the public. Firstly, the mass media, including newspapers, magazines, television, radio,  are slower than before  in terms of broadcast information. This happens because the rules of journalism such as accuracy, cover both side should be maintained. Confirmation process takes time, and this makes the mass media behind with social media in terms of speed.

Secondly, the mass media tend to enlarge and create a conglomeration potentially cause problems in terms of independence. Some of the media are owned by politicians. MNC Group is owned by Hary Tanoe (candidate for vice president of the Hanura). He has about 49 electronic and print media in this business group.

Aburizal Bakrie (Golkar presidential candidate) has a strong media such as TVOne with VIVA news as the holding. Party Chairman Surya Paloh Nasdem have Metro TV, Media Indonesia and other media. Dahlan Iskan, alternative candidates for presiden is owner  Jawa Pos group that reaches many parts of Indonesia.

Presidents SBY often face a mass media in reporting activities disproportionately. For example, in a visit to a  province or city, the President welcomed thousands of people. But the media were more interested in writing news of  the arrival of dozens of people who demonstrate against SBY. The news angle was not proportional.

The  president recognized the need channels that can carry information as a counterweight alternative news media information.

Thirdly, SBY breakthrough networking through social media is very strategic. To build the mass media with tens of thousands of subscriber need billions of rupiah. With a click twitter, followers SBY has reached 2.5 million people in a short time.

The position of social media may not be able to fully replace the mass media. These two types of media can complement each other. But for SBY, today is more often criticized than praised by the mass media, a breakthrough through social media can be a counterweight.

For the community, ease of communication with the President very profitable. However public access to the mass media is limited. The tendency of journalists more often citing officials, businessmen and less reported news "lower classes" making a lot of noises that are not accommodated reporters. With social media, the general public has direct access to the President.


Communication between President-community through social media is still tested by time. In the end, officials-people communication is not just  "say hello". The substance of the people's voice must be heard and then get a solution. Rihad Wiranto--personal opinion.

Rabu, 19 Juni 2013

Orang Kaya yang Manja

Kalangan menengah tega memakan subsidi rakyat miskin 


Tiap kali menjelang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tiba-tiba bermunculan jargon-jargon pembelaan terhadap rakyat miskin. Para elit politik yang mendukung pengurangan subsidi ataupun yang menolak mengcungkan diri sebagai pembela orang bawah.

Faktanya, orang miskin adalah bukan pengguna utama BBM. Tengoklah kembali hasil Sensus Nasional 2011. Sebanyak 60 persen rumah tangga Indonesia menggunakan premium atau solar yang disubsidi pemerintah. Dari 60 persen  rumah tangga yang memiliki kendaraan, hanya 31,7 persen yang dimiliki rumah tangga golongan bawah.

Percaya atau tidak, sekitar 93 persen pengguna BBM itu adalah kalangan atas, hanya 7 persen subsidi dinikmati keluarga miskin.  Tengok data Kementerian ESDM yang menunjukan kebanyakan bensin dan solar dinikmati orang yang memiliki kendaraan. Pemilik mobil  53 persen, sedangkan motor 47 persen. Kalau pemilik mobil hampir pasti orang menangah ke atas, sedangkan motor bisa saja dimiliki orang kaya atau kelas bawah.

Data Kementerian Keuangan 2012 menyebutkan sebanyak  25 persen rumah tangga berpenghasilan tertinggi menikmati 77 persen subsidi BBM. Sebaliknya 25 persen rumah tangga berpenghasilan terendah menikmati 15 persen subsidi BBM

Jika melihat angka seperti itu, siapa yang akan tersengat jika harga premium dan solar naik? Jelas kalangan menengah yang akan terkena dampaknya paling terasa. Mereka akan membeli premium atau solar lebih mahal dari biasanya.

Dampak ikutannya, biaya jemputan anak sekolah naik,  baik yang naik ojek atau angkutan antar jemput. Biaya sekolah, khususnya yang swasta juga akan menaikan sumbangan renovasi sekolah, seragam, buku dan seterusnya.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa pernah menyatakan rata-rata sehari, pemilik mobil menikmati subsidi Rp120 ribu perhari. Jika pemilik itu menggunakan mobil 30 hari  maka dia menghabiskan uang negara  Rp3,6 juta per bulan. Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan upah minimum buruh Jakarta yang hanya Rp2,2 juta per bulan. Di daerah lain, UMP bahkan lebih rendah dibandingkan di Ibu Kota.

Rasa keadilan jadi tercabik-cabik melihat kenyataan banyak mobil mewah tetap membeli premium. Pemilik mobil kinclong seharga di atas  Rp500 juta tidak malu antre bersama mikrolet lusuh, bus metromini karatan di SPBU. Spanduk bertuliskan Premium Hanya Untuk Golongan Tidak Mampu  yang tersebar di  banyak SPBU tidak menyentuh hati mereka sama sekali.
Kalangan menengah merupakan golongan yang rasional. Mereka bisa menghitung betapa besarnya diskon premium yang mereka terima. Jika harus membeli Pertamax, dia harus merogoh sekitar  Rp9.000  untuk satu liter. Bayangkan, premium hanya Rp4.500 per liter,  sehingga dia bisa hemat Rp4.500 per liter atau diskon 50 persen.

Kalangan menengah yang juga jago shopping ini, biasa mengejar diskon di toko-toko untuk baju, handphone, tas, sepatu, dan seterusnya. Diskon 20 persen saja sudah cukup menggugah nafsu belanja mereka. Jadi mengharapkan kalangan menengah untuk berbaik hati membeli Pertamax adalah sangat sulit, tidak rasional.

Di satu sisi, kalangan menengah yang boros BBM itu semakin banyak jumlahnya.  McKinsey Global Institute memperkirakan  kelas menengah Indonesia bakal mencapai 135 juta pada 2030 dari angka saat ini sekitar 50 juta orang.

Lembaga ini menyebut kelas menengah sebagai consuming class, yakni individu yang berpendapatan minimum US$3.600 per tahun atau sekitar Rp34,2 juta setara Rp2,9 juta per bulan.

Boston Consulting Group (BCG) memproyeksikan, jumlah konsumen kelas menengah di Indonesia akan mencapai 141 juta jiwa pada 2020. Jumlah ini meningkat hampir dua kali lipat dibanding 2012  sekitar 74 juta orang. BCG mendefinisikan kelas menengah adalah warga   berpenghasilan minimum Rp2 juta per bulan. 

Pada 2020, Euromonitor International juga yakin kelas menengah di Indonesia bakal mencapai 58 persen  dari jumlah penduduk.  

Selain soal pendapatan yang bertambah, kalangan menengah juga memiliki gaya hidup yang jauh berbeda dibandingkan ketika miskin. Mereka menginginkan pendidikan lebih berkualitas, fashion trendi, suka piknik, kerap makan di restoran, selain memiliki rumah dan mobil baru tentunya.

Tapi perlu diingat, kalangan menengah ini hidup bersama orang miskin. Meskipun angka kemiskinan di Indonesua terus menurun, jumlahnya masih  banyak. Pada September 2012, jumlah penduduk miskin  mencapai 28,59 juta orang (11,66 persen).


Jadi, relakanlah subsidi yang dinikmati orang kaya itu untuk kemudian dialihkan kepada si miskin. Penghematan subsidi itu akan dibangun sekolah, jalan, perbaikan angkutan umum dan sarana lain yang bisa dinikati bersama. Tak perlu manja lagi, toh?

Selasa, 18 Juni 2013

Pengelolaan Pesawat Tidak Sama dengan Mikrolet

Burung yang sehat bisa terbang secara aman.
NAIK pesawat selalu berbeda rasanya dengan menumpang bus umum. Meski sudah terbang berkali-kali, selalu saja rasa was-was hinggap sebelum take off maupun landing. Kadang untuk melepas stres, penumpang bertepuk tangan sesaat ban pesawat menyentuh landasan. Atau tidur sepanjang perjalanan.

Meski kecelakaan kendaraan darat tiap hari terjadi, kadang dengan jumlah korban tidak sedikit, pemberitaan di media tidak seheboh pesawat tergelincir. Berita pesawat jatuh selalu ramai dibicarakan. Tapi semua kegaduhan itu baik adanya yang mendorong teknisi memperbaiki kinerja pesawat. Terbukti, transportasi udara maju pesat dari sisi teknologi. Semua pihak selalu berusaha menuju standar "nol kecelakaan".

Kecelakaan MA-60 buatan China yang tergelincir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (10/6) juga mengundang tanggapan serius. Merpati mendatangkan 14 pesawat secara bertahap pada 2007 dengan harga per unit US$ 11 juta atau Rp 94,08 miliar. Kinerja pesawat ini menjadi pertanyaan karena sudah banyak kecelakaan yang terjadi. Tragedi pesawat terparah adalah saat jatuh di Teluk Kaimana, Papua Barat, yang menewaskan20 orang pada 7 Mei 2011.

Insiden kecil pesawat ini sudah terjadi di berbagai tempat. Sebut saja MA-60 memercikan api di Bima, NTB (12/12/2011), terperosok di lahan gambut di Sampit, Kalteng, (8/1/2012), ban belakang tidak berfungsi dan pesawat terperosok di Lombok, NTB (31/12/2012).

Bukan saja di Indonesia, pesawat berkapasitas 60 orang ini juga bermasalah di negara lain. Kejadian terbaru 10 Juni lalu, pesawat Myanmar Airways terpeleset di kota Kawthaung. Kejadian sebelumnya di Zimbabwe, Filipina, dan Bolivia. Meski kebanyakan kecelakaan ringan, berita seperti itu menambah waswas orang yang akan menggunakannya.

Apalagi sebagian orang meragukan produk China dalam hal kualitas. Bertahun-tahun China membangun industrinya melalui produk murah untuk menembus pasar ekspor. Jika produk yang diimpor sekadar mainan anak-anak, kalau rusak langsung masuk tempat sampah. Bagaimana jika yang rusak pesawat?

Untuk beberapa hal China memang kontrakdiktif. Di satu sisi, mereka dengan sengaja menjual produk murah meski kualitas rendah. Di sisi lain, China mampu membuat pesawat terbang, bahkan wahana ruang angkasa.

Produk tiruan China sangat mirip dengan produk yang "dibajaknya". Lihat saja berbagai produk handphone dan gadget lain yang banyak ditemukan di negara itu termasuk Indonesia. Para pembeli sudah sadar, kalau produk itu bersifat untung-untungan. Kalau pas lagi dapat bagus, pembeli untung. Jika ternyata produknya buruk, ya anggap saja konsumen sedang sial.
Tentu dalam hal pesawat, China tak bisa untung-untungan. Kenyataannya, negara itu baru saja meluncurkan Shenzhou-10 tepat pukul 17.38 waktu setempat, Selasa (11/6).

Tiga astronot yang mengawaki masing-masing Nie Haisheng, Zhang Xiaoguang, dan Wang Yaping, astronot wanita kedua China. Mereka menjalani misi 15 hari di luar angkasa untuk menjajaki pembangunan stasiun luar angkasa. Shenzhou-10 bahkan sudah bergabung dengan laboratorium antariksa Tiangong 1 guna penelitian medis dan teknis.

Tapi keraguan atas produk China memang masih terdengar. Itulah sebabnya, pihak Merpati langsung bereaksi setelah kecelakaan pesawat MA-60. Dirut Merpati, Rudy Setyopurnomo memastikan MA-60 adalah pesawat aman berkat komponen buatan Amerika dan Eropa. "China hanya merakitnya, " katanya, Rabu (12/6).

MA-60 singkatan dari Modern Ark artinya "Menuju Keberuntungan". Sedangkan angka 60 berarti pesawat ini dapat mengangkut maksimal 60 penumpang. Pabriknya berada di kota Xian, yaitu AVIC -Xi'an Aircraft Industry (Group) Company LTD atau sering juga disebut Xi'an Aircraft International Corporation.

Pesawat ini dibuat dengan melibatkan banyak insinyur berbagai negara. Desain pesawat MA-60 oleh Anatonov, mesin buatan Kanada, komponen lainnya dari Amerika dan Eropa. Cara pembuatannya mirip dengan pesawat diproduksi PT Dirgantara Indonesia dengan CN-250 yang melibatkan kerja sama Casa (Spanyol) dan Nurtanio/Nusantara.

Bedebat soal kecanggihan pesawat seringkali tidak ada ujung pangkalnya. Produsen selalu menyebut pesawat buatannya bagus. Kita sebagai konsumenlah yang harus waspada.
Semakin hari jumlah penerbangan di Indonesia makin banyak. Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar menyatakan lima tahun terakhir pertumbuhan penumpang pesawat naik 10-18 persen. Tapi masih banyak orang Indonesia yang tidak pernah naik pesawat selama hidupnya. "Dari 250 juta penduduk Indonesia, yang naik pesawat baru 80 juta orang," katanya di Nusa Dua Bali di depan forum Pemred.

Emirsyah membandingkan dengan Singapura. Negara mungil itu hanya dihuni 5 juta penduduk. Tapi mereka berulang kali naik pesawat, hingga mencapai 35 juta orang. Sementara Australia dengan 22,8 juta penduduk memiliki penumpang hingga 77 juta orang.

Artinya akan banyak pesawat yang akan lalu-lalang di udara Indonesia, mengingat banyak warga yang mulai gandung terbang. Banyak pengusaha yang berebut untuk membangun maskapai. Tapi perlu diingatkan, membangun bisnis penerbangan tidak sama dengan angkutan darat, katakanlah mikrolet yang sangat semrawut saat ini. Jangan sampai Indonesia menjadi "kuburan" pesawat. (pernah dimuat di Jurnal Nasional 15 Juni 2013) n Rihad Wiranto

Senin, 04 Februari 2013

Indonesia Berhasil Jalankan Program MDGs



Terpilihnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Panel Tingkat Tinggi PBB untuk perumusan agenda pembangunan pengganti Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) merupakan bukti Indonesia semakin diperhitungkan di mata dunia.

Presiden SBY bersama Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf dan Perdana Menteri Inggris David Cameron  menjadi ketua bersama panel tersebut yang beranggotakan  27 tokoh dunia dari berbagai kalangan.

Jumat lalu (1/2), para tokoh dunia ini mengadakan pertemuan ketiga yang berlangsung di Monrovia, ibukota Liberia. Pertemuan itu akan dilanjutkan Maret 2013 di Bali untuk menyusun rumusan akhir sebelum disampaikan kepada Sekjen PBB Ban Ki Moon di New York, Mei 2013. Sekitar 180 negara akan menanggapi rumusan tersebut, sebelum ditetapkan menjadi  program pengganti MDGs pasca 2015.

Sekjen PBB memilih anggota panel karena kualitas orangnya, bukan jabatannya. Karena itu anggotanya beragam, ada presiden aktif, mantan presiden, perdana menteri, mantan perdana menteri, aktivis sosial,  termasuk wartawan.

Indonesia telah berhasil menjalankan program MDGs  yang akan berakhir pada 2015.  Ada delapan tujuan MDGs. Tujuan tersebut adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan; mencapai pendidikan dasar untuk semua; mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; menurunkan angka kematian anak; meningkatkan kesehatan ibu; memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya; memastikan kelestarian lingkungan hidup dan membangun kemitraan global untuk pembangunan.

Sesuai data di Bappenas, Indonesia antara lain berhasil mengurangi proporsi penduduk dengan pendapatan kurang dari US$1 per kapita perhari, rasio angka melek huruf perempuan terhadap laki-laki umur 15-24 tahun dan prevelensi dan tingkat kematian serta proporsi jumlah kasus tuberkolosis yang disembuhkan.  

Namun,   ada tantangan yang masih harus diperjuangkan. Persentase penduduk di bawah garis kemiskinan masih 12,49 persen (data Oktober 2012). Sedangkan target  MDGs adalah 7,55 persen. Masih terjadi  228 ibu meninggal per 100 ribu kelahiran hidup. Dalam MDGs sendiri, ditargetkan hanya 102 per 100 ribu kelahiran hidup.

Terkait dengan prevalensi HIV/AIDS dan penyakit menular lain, target MDGs mencanangkan penyakit menular harus segera dihentikan.  Tingkat kematian karena penyakit menular pada 2011 mencapai 27 jiwa per 100 ribu penduduk.  Perihal kelestarian lingkungan hidup, data 2011 menyebutkan 12,57 persen rumah tangga kumuh tinggal di perkotaan. Bappenas menargetkan pada 2020 hanya tinggal 6 persen.

Perjalanan MDGs telah memasuki tahun ketiga belas, dan dengan waktu dua tahun yang tersisa menjelang 2015, upaya untuk mempercepat pencapaian target  MDGs terus dilakukan.  Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDGs, Nila Moeloek  menyatakan  komitmen pemerintah  dalam mencapai target MDGs baik di tingkat nasional, regional maupun global tidak perlu diragukan lagi.

Itu terlihat dari peran aktif  Indonesia di tataran global terbukti dengan peran Presiden SBY dalam  Panel Tingkat Tinggi PBB membahas peogram MDGs.  Indonesia juga membentuk Komite Nasional Pasca 2015 yang beranggotakan pakar-pakar pembangunan untuk memformulasikan posisi RI serta Asia Pacific dalam Kerangka Pembangunan Pasca 2015 tersebut.

Presiden SBY  menekankan, perlunya kemitraan di dalam negeri maupun antarnegara dalam mencapai agenda pembangunan berkelanjutan. SBY mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun kemitraan yang efektif dalam rangka menyukseskan agenda pembangunan. Perlu kerja sama dan mendengarkan analisis sektor bisnis, masyarakat sipil, dan akademisi. (dimuat di Jurnas Selasa, 5 Februari 2013)

  

Selasa, 22 Januari 2013

Bagaimana Cara Mengurangi Kesenjangan




Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi impian setiap negara, termasuk Indonesia.  Pantas disyukuri, ekonomi Indonesia terus tumbuh, meski sebagian  besar negara lain dilanda krisis. Pada 2013, menurut asumsi APBN, Indonesia akan tumbuh 6,8 persen.

Pertumbuhan menunjukkan bahwa kue ekonomi suatu negara semakin besar. Kue yang membesar ini,  kadangkala tidak diikuti oleh distribusi merata. Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat tidak memiliki akses ekonomi, bahkan “tersisih” dari pembagian kue pertumbuhan.

Dampak negatif pertumbuhan ekonomi berupa kesenjangan ini, tidak boleh dibiarkan. Pemerintah Indonesia dengan segala upaya telah melaksanakan program penurunan angka kemiskinan demi mengurangi kesenjangan  tersebut.

Hasilnya, jumlah orang miskin di Indonesia semakin menurun. Data Badan Pusat Statistik (BPS),  menunjukkan  semua itu. Pada  2011, tingkat kemiskinan turun  hingga 12,49 persen dibandingkan angka kemiskinan 2010 pada level 13,33 persen.

Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari berbagai program penurunan angka kemiskinan yang sudah dilaksanakan dari tahun ke tahun. Pada 1976, saat pemerintah dipimpin Presiden Soeharto, angka kemiskinan masih sangat tinggi hingga  40 persen atau setara 54 juta jiwa.

Angka kemiskinan memang sempat turn hingga 22,5 juta (13,7 persen) pada 1996.  Tapi jumlah penduduk miskin kembali melonjak hingga49,5 juta jiwa (hampir 25%) pada tahun 1998 saat krisis ekonomi menerjang Indonesia dan kawasan Asia.

Dengan makin giatnya usaha pemerintah, angka kemiskinan kembali secara bertahap menurun lagi. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, penurunan angka kemiskinan semakin nyata. Mari kita cek kembali data resmi BPS.

Pada  2005-2009 angka kemiskinan menurun antara 1,16 sampai 1,27 persen per tahun dan mampu mengentaskan hampir 7 juta jiwa dari kemiskinan selama periode tersebut. Dan pada tahun 2010 angka kemiskinan masih tersisa 13,33 persen atau setara 31,02 juta penduduk.

Tahun 2011, angka kemiskinan turun lahi tinggal  12,49 persenatau  30,02 juta jiwa. Pad tahun 2012, jumlah orang miskin kembali turun  hingga tinggal  29,12 juta orang atau 11,96 persen dari total penduduk Indonesia.  

Mengapa angka kemiskinan terus menurun? Sudah tentu ini hasil dari pelaksanaan program yang terukur dan terus menerus. Program kemiskinan seringkali kurang terekspose media, sehingga masyarakat kurang menyadarinya. Padahal pemerintah memiliki program yang tertata dengan baik.


Program-program kemiskinan dibagi menjadi 4 (empat) bagian.  Klaster pertama, berupa Program Bantuan Sosial dan Jaminan Sosial. Tujuannya adalah mengurangi beban masyarakat dan keluarga miskin dalam pemenuhan kebutuhan dasar melalui peningkatan akses pelayanan dasar antara lain melalui makanan, kesehatan dan pendidikan.

Klaster dua,  Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dengan tujuan meningkatkan kapasitas, kemandirian dan pemberdayaan masyarakat.

Klaster  tiga, Program Program Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang bertujuan  membantu usaha mikro dan kecil untuk meningkatkan pendapatan masyarakat miskin.

Klaster empat, Program Pro Rakyat yang dilaksanakan untuk membantu kebutuhan masyarakat yang berpenghasilan rendah dan termajinalkan.

Tentu saja, kita tak boles puas diri. Berbagai program tersebut harus terus dievaluasi dan diperbaiki terus menerus. Dengan program yang tepat, kita bisa berharap angka kemiskinan akan terus berkurang. 
(dimuat di Jurnas halaman 6 edisi 23/1/2013).